A-
 A 
A+
Open login
Artikel Seputar Bayi & Anak Kartun SpongeBob Dan Efeknya Terhadap Anak-Anak
Kartun SpongeBob Dan Efeknya Terhadap Anak-Anak
Tuesday, 27 September 2011 18:47    PDF Print E-mail
imgArtikelKedua buah hati saya sangat suka menonton televisi, mereka menonton selama kurang lebih empat jam setiap harinya... kira-kira dua jam di pagi hari dan dua jam di sore-malam hari (kebanyakan ya? =P). Walau demikian tontonan mereka sangat saya batasi, hanya sebatas film kartun, Barney, musik anak anak dan garuda di dadaku. Sinetron yang ada anak kecilnya pun tidak boleh.

Seiring dengan bertambahnya usia mereka, tontonannya pun ikut berubah. Dulu anak saya hanya suka menonton Thomas saja, kemudian saat mulai bosan, diapun beralih ke kartun Cars... Sekarang anak sulung saya memasuki usia 5 tahun dan sangat suka menonton Sponge Bob. Awalnya saya agak terganggu dengan penggunaan bahasa yang relatif kasar di kartun tersebut, namun karena saya pikir ini hanyalah kartun dan dia selalu didampingi saat menonton televisi, saya rasa tidak ada masalah. Ternyata ... Ketemulah artikel hasil penelitian mengenai anak-anak yang menonton Sponge Bob (hasil translate dapat dibaca di bawah).

Pun, setelah membaca artikel ini saya masih bingung batasan realita dan bukan yang dimaksud oleh artikel tersebut. Apa ini berarti kartun-kartun lainnya juga memberikan efek negatif? Seperti Thomas atau Cars misalnya - yang karakternya juga khayalan meski ritme atau pergerakan gambarnya cukup pelan atau bahkan sangat pelan. Untuk amannya, sebaiknya kartun pun harus dipilih-pilih. Yang terpikirkan oleh saya saat ini, kartun yang cukup mendekati realita antara lain: Dora, Diego, Ipin & Upin. Disamping itu menonton televisi pun harus dikurangi demi kebaikan mereka juga... (pe-er besar buat ibunya yaitu mencari kegiatan lain yang lebih berguna untuk anak-anak =P)

SpongeBob SquarePants Dapat Mengganggu Kemampuan Anak-Anak Dalam Belajar
Oleh Rick Nauert PhD Senior News Editor dan direview oleh John M. Grohol, Psy.D. pada tanggal 13 September 2011

Hasil penelitian baru-baru ini yang cukup provokatif menyatakan bahwa beberapa siaran di televisi dapat mengganggu kesiapan dan kemampuan anak-anak dalam belajar.

Ahli psikologi di University of Virginia menemukan bahwa siaran televisi dengan ritme yang cepat dan fantastis (khayalan) dapat memberikan efek negatif secara langsung setelah menonton siaran tersebut pada perilaku dan kemampuan belajar anak-anak.

Para peneliti melakukan pengujian terhadap anak-anak berusia 4 tahun segera setelah mereka menonton kartun "SpongeBob SquarePants" selama sembilan menit. Mereka menemukan bahwa fungsi eksekutif, yaitu kemampuan untuk fokus /memperhatikan, menyelesaikan soal dan permasalahan, juga perilaku, sangat terganggu jika dibandingkan dengan anak usia 4 tahun lainnya yang menonton selama sembilan menit acara "Cailou" - acara TV dengan ritme yang lebih pelan dan bersifat realistis, atau menggambar selama sembilan menit.

"Hanya sedikit perbedaan antara hasil pengujian pada grup yang menggambar dan grup yang menonton 'Caillou'," kata peneliti utama Angeline Lillard, Ph.D.

Lillard mengatakan bahwa ada dua kemungkinan kenapa acara TV yang beritme cepat dan fantastis (khayalan) menunjukkan efek negatif terhadap kemampuan belajar dan perilaku anak-anak.

"Salah satu kemungkinan yaitu karena ritme yang cepat dimana karakternya secara terus menerus bergerak dan melakukan satu hal ke hal berikutnya, dan fantasi yang ekstrim dimana karakternya melakukan hal-hal yang tidak masuk akal di dunia nyata, dapat merusak kemampuan anak untuk konsentrasi setelahnya," menurut Lillard.

"Kemungkinan lainnya adalah anak-anak mengidentifikasi karakter yang tidak fokus dan frentic tersebut, dan kemudian meniru karakteristiknya."

Seluruh anak-anak pada penelitian tersebut, apakah mereka menonton televisi ataupun menggambar, segera diuji setelahnya untuk mengetahui seberapa baik mereka menyelesaikan soal dan mengikuti aturan, kemampuan mereka untuk mengingat apa yang telah dijelaskan, dan dapat tidaknya menahan diri saat pemberian hadiah ditunda.

Lillard menyarankan agar para orang tua mempertimbangkan hasil penelitian ini saat memutuskan acara televisi apa saja yang diperbolehkan untuk ditonton anaknya -- jika mereka menonton televisi.

"Orang tua harusnya mengetahui bahwa anak-anak yang baru saja menonton 'SpongeBob Squarepants' atau siaran sejenis itu, kemampuan anaknya untuk belajar dan berperilaku baik kemungkinan akan terganggu," kata Lillard.  Produser kartun SpongeBob, Nickelodeon, menyatakan bahwa kartun SpongeBob ditargetkan untuk anak-anak yang berusia 6 s.d. 11 tahun, dan adalah untuk hiburan semata -- bukan acara edukasi.

Namun penelitian tersebut tidak melakukan pengujian terhadap efek jangka panjang, hanya efek jangka pendek saat anak-anak baru selesai menonton siaran televisi tersebut. Para peneliti tidak mempelajari apakah efek negatif tersebut akan hilang dalam 2 menit, 20 menit, 2 jam atau sehari.

Lillard mengatakan bahwa usia 4 tahun adalah tingkat perkembangan anak yang sangat penting dalam hidup mereka dan apa yang mereka tonton di televisi dapat mengakibatkan efek jangka panjang ataupun permanen terhadap kemampuan belajar juga perilaku. Meskipun demikian, penelitian mereka hanya terfokus pada efek secara langsung.

"Anak seusia tersebut mulai mempelajari bagaimana harusnya bersikap dan cara belajar," kata Lillard.

"Di sekolah mereka harus berperilaku baik, mereka harus duduk dan makan di meja dengan tertib, menghormati orang lain dan perilaku lainnya terkait kemampuan eksekutif. Jika seorang anak baru saja menonton siaran televisi yang mengganggu perkembangan kemampuan ini, kita tidak dapat mengharapkan anak tersebut untuk berperilaku baik sehari-harinya."

Para orang tua disarankan untuk menggunakan aktifitas pembelajaran yang kreatif untuk anak, seperti menggambar, penggunaan building blocks dan board games, dan bermain di luar rumah untuk membantu meningkatkan perilaku anak yang baik dan kemampuannya untuk belajar.

"Kemampuan eksekutif sangat penting sekali dan memiliki peran yang besar terhadap kesuksesan anak di sekolah dan kehidupan sehari-hari," kata Lillard. "Hal ini penting terhadap psikologis dan kemampuan fisik anak".

Hasil penelitian ini dipublikasikan pada Journal Pediatrics edisi Oktober.

Catatan: Artikel di atas diterjemahkan secara bebas oleh tim babytoybox dari website sebelah. Click di sini untuk ke sumber artikel.

blog comments powered by Disqus